Saya duduk di kursi ini sendirian. Hujan tidak juga berhenti. Jadi, cemas terlontar dan pertanyaan berkelebat dalam benak saya. Pertanyaan pertanyaan ini.
Apa yang saya harapkan dari setiap perkataan perkataan yang terlontar dari bibir-bibir manusia terhadap diri saya? Apa setiap jengkal tanah yang saya lalui itu sangat menyentak mereka? Apa saya hanya seorang naif yang berpendapat bahwa dunia tidak akan terinterupsi oleh setiap langkah kecil yang saya ayunkan?
***
Saya pernah tersentak dan terbangun dari dalam sebuah lubang yang curam. Hingga akhirnya kaki ini harus terseok seok untuk merangkak keluar. Hingga hati masih tidak bisa memaafkan jiwa. Saya pernah terperangkap di dalam kesalahan besar karena melangkahkan kaki saya ke jalur yang keliru. Saya pernah mengalami masa dimana hitam pekat adalah satu satunya teman setia yang tinggal, karena saya telah tertahan di dalam terowongan gelap tanpa akhir. Saya pernah mengalami masa dimana berlari melawan arah adalah solusi jenius yang mendistorsi pikiran dalam raga.
Sekarang pun saya masih dalam sebuah terowongan gelap. Ada cahaya terang diluar sana. Cahaya itu terlihat sedikit dari dalam sini. Samar samar. Tapi untuk menjangkau cahaya terang itu, masih terlalu jauh.
Walau begitu sedikit cahaya itu memberikan secuil sinar yang sedikit membuat lega jiwa serta raga yang berada di dalam terowongan gelap ini.
***
Ternyata berada di dalam terowongan gelap belum cukup. Masih ada beberapa langkah kecil yang saya ayunkan, yang ternyata keliru di mata-mata pada umumnya. Dan kekeliruan yang saya maksud disini bukan kekeliruan besar yang membuat saya berada di terowongan. Tapi katakanlah kekeliruan yang saya maksud disini jauh lebih kecil dari yang pertama dan berada pada ruang berbeda yang sama sekali tidak saling terhubung dengan yang pertama. Dan jika kekeliruan pertama adalah tindakan, mungkin yang kedua ini adalah sifat saya beberapa pekan terakhir ini tentang cinta.
Oh, saya lupa. Keliru di mata orang itu wajar. Tapi menurut saya tidak wajar jika kekeliruan saya dalam melangkahkan jejak kecil dalam kehidupan personal saya dijadikan suatu tolak ukur tentang bagaimana saya. Saya memang keliru. Tapi saya tidak tau, kekeliruan itu mengundang banyak penghakiman. Atau mungkin saya yang terlalu naif, bahwasanya satu langkah kecil saya ternyata bisa mempengaruhi pandangan orang kepada keseluruhan diri saya. Saya kira kekeliruan besar yang saya alami sebelumnya, itulah kekeliruan yang bisa membuat orang menghakimi saya. Ternyata tidak. Bahkan hal kecil dan pribadi bisa menjatuhkan.
Lalu bagaimana dengan orang orang yang hanya baru beberapa pekan terakhir mengenal wajah saya? Apa lantas berhak menghakimi pandangan dalam diri mereka tentang saya? Tidakkah mereka mau melihat dari sisi mata uang yang berbeda? Mata uang saja punya dua sisi kan?
Tapi lagi lagi, saya tidak tau. Yang saya tau pikiran masing masing orang tidak ada limitnya. Mereka bebas. Saya tau. Mereka bebas berpikir apa saja. Mereka bebas bernarasi dan membuat plot dalam pikiran mereka. Mungkin saya yang harus mengontrol titik titik dalam pikiran saya dan hati saya untuk mulai mencerna bahwa hidup memang begini. Mungkin saya sekarang berada pada masa masa untuk mulai memahami jalan hidup yang tidak ramah.
***











